Laskar Rafflesia
(Upaya Memperkenalkan Kearifan Lokal Bengkulu
Melalui Media Sosial)
Oleh : Epran
Gambar 1. Founder Laskar Rafflesia
Teknologi yang katanya bisa membuat
manusia menjadi maju, nyatanya menjadi candu. Yang katanya memudahkan, nyatanya
bisa jadi sebagai suatu bencana yang tidak direncanakan. Katanya, teknologi
memudahkan siapapun untuk menggenggam dunia, tapi nyatanya banyak yang terlena
sehingga mencengkram dan bisa menghancurkan sebuah bangsa. Tidak usah dihitung
berapa banyak tindak kejahatan karena kemajuan teknologi, juga tidak usah
dihitung seberapa banyak kasus menurunnya moral yang terjadi karena kurang
bijaknya dalam menggunakan teknologi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah
berdiam diri saja? Sedang teknologi, robot-robot, dan internet terus berusaha
menguasai kita secara perlahan. Tidak! Jangan diam saja!
Umumnya, masyarakat kini menggunakan
media untuk mengakses informasi. Presiden, Menteri, Pekerja, bahkan sampai
Tukang Ojek dan Pedagang Kaki Lima saja memiliki ponsel yang setidaknya dapat
mengakses informasi yang dimudahkan oleh adanya internet. Kini semua orang
diberi kebebasan untuk memberikan opininya di berbagai situs media online yang
memang tersedia (facebook, Twitter,
Instagram, dll) dan mudah untuk diakses. Bahkan karena kemudahan dan
banyaknya orang yang dapat mengakses situs tersebut, media online kini
digunakan oleh aktor politik, influencer,
ataupun motivator untuk menyampaikan pendapat atau pernyataannya yang dapat
mempengaruhi pemikiran khalayak pada umumnya.
Indonesia bukan lagi negara jajahan pada
74 tahun silam, bukan pula negara yang tertutup dari pengaruh dunia luar. Semua
dapat diakses dengan cepatnya, seiring berkembangnya teknologi industri 4.0.
Secara tidak langsung revolusi industri 4.0 merubah segala bentuk perilaku,
sikap, moral, sosial, budaya bahkan pola pikir penggunanya. Bagaimana tidak?
begitulah hebatnya pengaruh yang ditimbulkan dari revolusi industri 4.0 sampai
dapat mempengaruhi pola pikir generasinya.
Penulis sangat merasakan pengaruh
besar yang diberikan dari revolusi industri 4.0. Masa kecil anak 90-an diwarnai
dengan permainan tradisional, dimana dalam permainan tradisional itu secara
tidak langsung melatih hubungan sosial antar anak. Dalam bermain akan timbul
masalah yang nantinya akan diselesaikan secara bersama-sama. Ada banyak
pengajaran disana, baik itu kerja sama tim dan juga menghadirkan rasa
kepedulian terhadap sesama. Generasi ini disebut juga sebagai generasi X,
dinama pada masa generasi ini revolusi industri 4.0 belum berkembang pesat.
Namun berbeda seperti apa yang
penulis amati pada generasi saat ini, asik dengan gadget yang menjadi budaya
bagi mereka. Generasi saat ini disebut dengan generasi Y atau yang lebih kita
kenal dengan sebutan Generasi Milenial. Generasi Milenial sendiri ialah
generasi yang cepat menghadapi segala bentuk perubahan.
Menurut seorang penelitian dari
digital GFK Asia, penduduk indonesia menghabiskan 5,6 jam per hari untuk
memainkan smartphone. Tentu, ini
adalah durasi yang cukup lama bagi seseorang untuk memainkan smartphone. Salah-satunya Instagram, jenis media sosial yang
hampir dimiliki oleh setiap kalangan, dimulai dari anak-anak ,remaja atau
bahkan sampai kalangan orang tua. Jumlah pengguna instagram indonesia terbesar
ke-4 di dunia. Banyak dari berbagai kalangan yang pindah menggunakan media
sosial, awalnya facebook lalu pindah
ke instagram. Karena, fitur instagram yang lebih banyak dan sesuai
perkembangan zaman.
Bengkulu yang merupakan suatu
provinsi yang terletak di pesisir barat pulau sumatera dan berhadapan langsung
dengan Samudera Hindia, tentu mempunyai berbagai kearifan lokal . Dimulai dari
budaya, tradisi, pariwisata, dan sebagainya. Namun, kurangnya perhatian dari
masyarakat dan khususnya pemuda Bengkulu
tentang kearifan lokal Bengkulu, membuat Bengkulu kurang terangkat di kancah
nasional. Bahkan, Bengkulu termasuk salah-satu provinsi tertinggal yang ada di
Indonesia. Bahkan, sebagian pemuda Bengkulu sendiri tidak mengetahui budaya
Tabot, yang merupakan budaya sakral tahunan Bengkulu dan bunga Rafflesia Arnoldi, yang merupakan flora
endemik Bengkulu.Oleh karena itu, perlu adanya usaha dari generasi muda
Bengkulu untuk memperkenalkan Bengkulu ke kancah Nasional.
Dengan adanya media sosial seperti
Instagram, dapat mempermudah bagi kalangan yang mau mempromosikan sesuatu. Maka
dari itu, penulis telah membuat suatu akun di Instagram yang berisi content
tentang kearifan lokal Bengkulu, dimulai dari memperkenalkan budaya Bengkulu,
pariwisata Bengkulu, dan lain sebagainya (@laskar_Rafflesia). Ini bertujuan
untuk menambah pengetahuan kepada masyarakat luas, bahwasanya di Bengkulu juga
banyak budaya yang unik dan pariwisata yang indah. Sehingga, mereka dapat
berkunjung ke Bengkulu. Salah satu yang telah dipublikasikan melalui instagram
yaitu, Rumah Pengasingan Bung Karno. Banyak yang tidak tahu kalau Soekarno sang
proklamator bangsa Indonesia pernah diasingkan di Bengkulu. Oleh karena itu,
penulis telah membuat content tentang Rumah Pengasingan Bung Karno di
Instagram. Ini dengan tujuan untuk menginformasikan kepada masyarakat luas
bahwasanya Bung Karno pernah diasingkan ke Bengkulu sebelum kemerdekaan.
Menjadi generasi cerdas bukan lagi
sebuah pilihan, tetapi menjadi sebuah tuntutan bagi generasi di era ini.
Sebagai seorang pemuda kita harus peka terhadap lingkungan. Revolusi industri
4.0 juga bukan sebuah pilihan, melainkan sebuah tututan agar tidak tertinggal
dengan perkembangannya. Tapi menjaga nilai-nilai sosial budaya adalah kewajiban
sebagai perwujudan kebanggaan dasar negara kita Pancasila. Jadilah generasi
penawar racun, bukan pula menjadi penebar racun. Keputusan ada ditangan kita
masing-masing, ambil keputusan yang bijak sebagai generasi milenial yang
cerdas. Jadi, sebenarnya tidak ada yang tidak bisa kita lakukan untuk menjaga kearifan
lokal yang kita punya serta memperkenalkannya kepada khalayak umum . Kehadiran
dan kemajuan teknologi bukanlah alasan kenapa akhirnya kearifan lokal kita akan
terlupakan dan tinggal terkenang nantinya. Kehadiran dan kemajuan teknologi
adalah adalah sebuah tantangan yang harus dihadapi sama-sama. Mari kita
sebarkan dan viralkan sesuatu kebaikan, karena sebaik-baik manusia adalah
manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar